Thursday, August 5, 2010

Tarbiyyah Ramadhan :Keutamaan Sedekah

Ramadhan sudah semakin hampir.Bagi mukmin yang berusaha mebaiki diri dan mengharapkan senantiasa berada diatas jalan hidayah kedatangan ramadhan sangat dinanti umpama menunggu seseorang yang amat dikasihi. Ramadhan adalah bulan rahmat didalamnya dijanjikan pengampunan dan pembebasan dari azab api neraka.


Saudaraku,

Ramai dikalangan kita yakin akan kebesaran ramadhan namun demikian kekadang kita terlupa dan alpa dalam merebut kesempatan ini.

Salah satu pintu yang dibuka oleh Allah untuk meraih keuntungan besar dari bulan Ramadhan adalah melalui sedekah. Kita dianjurkan untuk banyak bersedekah.Bahkan sifat dermawan merupakan akhlak seorang mukmin. Ketahuilah bahwa kedermawanan adalah salah satu sifat Allah Ta’ala, sebagaimana hadits:

‏إن الله تعالى جواد يحب الجود ويحب معالي الأخلاق ويكره سفسافها

“Sesungguhnya Allah Ta’ala itu Maha Memberi, Ia mencintai kedermawanan serta akhlak yang mulia, Ia membenci akhlak yang buruk.”

(HR. Al Baihaqi, di shahihkan Al Albani dalam Shahihul Jami’, 1744)



Dari hadits ini dapat diambil kesimpulan bahwa sifat bakhil adalah akhlak yang buruk dan bukanlah akhlak seorang mukmin sejati. Begitu juga, sifat suka meminta-minta, bukanlah ciri seorang mukmin. Bahkan sebaliknya seorang mukmin itu banyak memberi. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

‏اليد العليا خير من اليد السفلى واليد العليا هي المنفقة واليد السفلى هي السائلة

“Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah. Tangan di atas adalah orang yang memberi dan tangan yang dibawah adalah orang yang meminta.”

(HR. Bukhari no.1429, Muslim no.1033)



Selain itu, sifat dermawan jika di dukung dengan tafaqquh fiddin, mengilmui agama dengan baik, sehingga terkumpul dua sifat yaitu alim dan juud (dermawan), akan dicapai kedudukan hamba Allah yang paling tinggi.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إنَّما الدنيا لأربعة نفر: عبد رزقه الله مالاً وعلماً فهو يتقي فيه ربه ويصل فيه رحمه، ويعلم لله فيه حقاً فهذا بأفضل المنازل

“Dunia itu untuk 4 jenis hamba: Yang pertama, hamba yang diberikan rezki oleh Allah serta kepahaman terhadap ilmu agama. Ia bertaqwa kepada Allah dalam menggunakan hartanya dan ia gunakan untuk menyambung silaturahim. Dan ia menyadari terdapat hak Allah pada hartanya. Maka inilah kedudukan hamba yang paling baik.”

(HR. Tirmidzi, no.2325, ia berkata: “Hasan shahih”)





Keutamaan Bersedekah

Allah Subhanahu Wa Ta’ala benar-benar memuliakan orang-orang yang bersedekah. Ia menjanjikan banyak keutamaan dan balasan yang menakjubkan bagi orang-orang yang gemar bersedekah.

Diantara keutamaan bersedekah antara lain:

1. Sedekah dapat menghapus dosa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

والصدقة تطفىء الخطيئة كما تطفىء الماء النار

“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.”

(HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)

2. Orang yang bersedekah akan mendapatkan naungan Di Mahsyar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang 7 jenis manusia yang mendapat naungan di padang mahsyar, yang ketika itu tidak ada naungan lain selain dari Allah. Salah satu jenis manusia yang mendapatkannya adalah:

رجل تصدق بصدقة فأخفاها، حتى لا تعلم شماله ما تنفق يمينه

“Seorang yang bersedekah dengan tangan kanannya, ia menyembunyikan amalnya itu sampai-sampai tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan oleh tangan kanannya.”

(HR. Bukhari no. 1421)



3. Sedekah memberi keberkatan pada harta

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ما نقصت صدقة من مال وما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا

“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim, no. 2588)



4. Allah melipatgandakan pahala orang yang bersedekah.

Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّ الْمُصَّدِّقِينَ وَالْمُصَّدِّقَاتِ وَأَقْرَضُوا اللَّهَ قَرْضاً حَسَناً يُضَاعَفُ لَهُمْ وَلَهُمْ أَجْرٌ كَرِيمٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersedekah baik laki-laki maupun perempuan dan meminjamkan kepada Allah pinjaman yang baik, niscaya akan dilipat-gandakan (ganjarannya) kepada mereka; dan bagi mereka pahala yang banyak.” (Qs. Al Hadid: 18)



5. Terdapat pintu surga yang hanya dapat dimasuki oleh orang yang bersedekah.

من أنفق زوجين في سبيل الله، نودي في الجنة يا عبد الله، هذا خير: فمن كان من أهل الصلاة دُعي من باب الصلاة، ومن كان من أهل الجهاد دُعي من باب الجهاد، ومن كان من أهل الصدقة دُعي من باب الصدقة

“Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan shalat, ia akan dipanggil dari pintu shalat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”

(HR. Bukhari no.3666, Muslim no. 1027)



6. Sedekah akan menjadi bukti keimanan seseorang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

والصدقة برهان

“Sedekah adalah bukti.” (HR. Muslim no.223)

An Nawawi menjelaskan: “Yaitu bukti kebenaran imannya. Oleh karena itu shadaqah dinamakan demikian karena merupakan bukti dari Shidqu Imanihi (kebenaran imannya)”



7. Sedekah dapat membebaskan dari siksa kubur.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‏إن الصدقة لتطفىء عن أهلها حر القبور

“Sedekah akan memadamkan api siksaan di dalam kubur.”

(HR. Thabrani, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Targhib, 873)



8. Sedekah dapat mencegah perniaga melakukan maksiat dalam jual-beli

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يا معشر التجار ! إن الشيطان والإثم يحضران البيع . فشوبوا بيعكم بالصدقة

“Wahai para peniaga, sesungguhnya syaitan dan dosa keduanya hadir dalam jual-beli. Maka hiasilah jual-beli kamu dengan sedekah.” (HR. Tirmidzi no. 1208, ia berkata: “Hasan shahih”)



9. Orang yang bersedekah merasakan dada yang lapang dan hati yang tenang.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan perumpaan yang jelas tentang orang yang dermawan dengan orang yang kikir:

مثل البخيل والمنفق ، كمثل رجلين ، عليهما جبتان من حديد ، من ثديهما إلى تراقيهما ، فأما المنفق : فلا ينفق إلا سبغت ، أو وفرت على جلده ، حتى تخفي بنانه ، وتعفو أثره . وأما البخيل : فلا يريد أن ينفق شيئا إلا لزقت كل حلقة مكانها ، فهو يوسعها ولا تتسع

“Perumpamaan orang yang kikir dengan orang yang bersedekah seperti dua orang yang memiliki baju besi, yang bila dipakai menutupi dada hingga selangkangannya. Orang yang bersedekah, disebabkan sedekahnya ia merasa bajunya lapang dan longgar di kulitnya. Sampai-sampai ujung jarinya tidak terlihat dan baju besinya tidak meninggalkan bekas pada kulitnya. Sedangkan orang yang kikir akibat kikirnya ia merasakan setiap sudut baju besinya melekat erat di kulitnya. Ia berusaha melonggarkannya namun tidak berhasil.” (HR. Bukhari no. 1443)

Dan hal ini tentu pernah rasai? Kia akan merasai kesenangan, puas dan lapang dada setelah kita memberikan sedekah kepada orang lain yang memerlukan.

Kedermawanan Rasulullah di Bulan Ramadhan

Rasul kita shallallahu ‘alaihi wa sallam, teladan terbaik bagi kita, beliau adalah orang yang paling dermawan, dan kedermawanan beliau lebih hebat lagi di bulan Ramadhan. Hal ini diceritakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu’anhuma:

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم أجود الناس ، وكان أجود ما يكون في رمضان حين يلقاه جبريل ، وكان يلقاه في كل ليلة من رمضان فيُدارسه القرآن ، فالرسول الله صلى الله عليه وسلم أجودُ بالخير من الريح المرسَلة

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling dermawan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan saat beliau bertemu Jibril. Jibril menemuinya setiap malam untuk mengajarkan Al Qur’an. Dan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melebihi angin yang berhembus.” (HR. Bukhari, no.6)

Dari hadits di atas diketahui bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada dasarnya adalah seorang yang sangat dermawan. Ini juga ditegaskan oleh Anas bin Malik radhiallahu’anhu:

كان النبي صلى الله عليه وسلم أشجع الناس وأجود الناس

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling berani dan paling dermawan.” (HR. Bukhari no.1033, Muslim no. 2307)

Namun bulan Ramadhan merupakan momentum yang hebat sehingga beliau lebih dermawan lagi. Bahkan dalam hadits, kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dikatakan melebihi angin yang berhembus. Diibaratkan demikian karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat ringan dan cepat dalam memberi, tanpa banyak berfikir, sebagaimana angin yang berhembus. Dalam hadits juga angin diberi sifat ‘mursalah’ (berhembus), mengisyaratkan kedermawanan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki nilai manfaat yang besar, bukan asal memberi, serta terus-menerus sebagaimana angin yang baik dan bermanfaat adalah angin yang berhembus terus-menerus. Penjelasan ini disampaikan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Baari.

Oleh karena itu, kita yang mengaku meneladani beliau sudah selayaknya memiliki semangat yang sama. Iaitu semangat untuk bersedekah, lebih banyak melebihi bulan-bulan lainnya.

Dahsyatnya Sedekah di Bulan Ramadhan

Salah satu sebab Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi teladan untuk lebih bersemangat dalam bersedekah di bulan Ramadhan adalah karena bersedekah di bulan ini lebih utama dibandingkan sedekah di bulan lainnya. Diantara keutamaan sedekah di bulan Ramadhan adalah:

1. Puasa digabungkan dengan sedekah dan shalat malam sama dengan jaminan surga.

Puasa di bulan Ramadhan adalah ibadah yang agung, bahkan pahala puasa tidak terbatas ganjarannya. Sebagaimana dikabarkan dalam sebuah hadits qudsi:

كل عمل ابن آدم له الحسنة بعشر أمثالها إلى سبعمائة ضعف قال عز و جل : إلا الصيام فإنه لي و أنا الذي أجزي به

“Setiap amal manusia akan diganjar kebaikan semisalnya sampai 700 kali lipat. Allah Azza Wa Jalla berfirman: ‘Kecuali puasa, karena puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya.’” (HR. Muslim no.1151)

Dan sedekah, telah kita ketahui keutamaannya. Kemudian shalat malam, juga merupakan ibadah yang agung, jika didirikan di bulan Ramadhan dapat menjadi penghapus dosa-dosa yang telah lalu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من قام رمضان إيماناً واحتساباً غفر له ما تقدم من ذنبه

“Orang yang shalat malam karena iman dan mengharap pahala, akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari no.37, 2009, Muslim, no. 759)

Ketiga amalan yang agung ini terkumpul di bulan Ramadhan dan jika semuanya dikerjakan balasannya adalah jaminan surga. Sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إن في الجنة غرفا يرى ظاهرها من باطنها وباطنها من ظاهرها أعدها الله لمن ألان الكلام وأطعم الطعام وتابع الصيام وصلى بالليل والناس نيام

“Sesungguhnya di surga terdapat ruangan-ruangan yang bagian luarnya dapat dilihat dari dalam dan bagian dalamnya dapat dilihat dari luar. Allah menganugerahkannya kepada orang yang berkata baik, bersedekah makanan, berpuasa, dan shalat dikala kebanyakan manusia tidur.” (HR. At Tirmidzi no.1984, Ibnu Hibban di Al Majruhin 1/317, dihasankan Ibnu Hajar Al Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/47, dihasankan Al Albani di Shahih At Targhib, 946)

2. Mendapatkan tambahan pahala puasa dari orang lain.

Kita telah mengetahui betapa besarnya pahala puasa Ramadhan. Bayangkan jika kitadapat meningkatkan pahala puasa kita dengan pahala puasa orang lain.iaitu dengan memberikan hidangan berbuka puasa untuk orang lain yang berpuasa.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

من فطر صائما كان له مثل أجره ، غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيئا

“Orang yang memberikan hidangan berbuka puasa kepada orang lain yang berpuasa, ia akan mendapatkan pahala orang tersebut tanpa sedikitpun mengurangi pahalanya.” (HR. At Tirmidzi no 807, ia berkata: “Hasan shahih”)

Padahal hidangan berbuka puasa sudah cukup dengan tiga butir kurma atau bahkan hanya segelas air, sesuatu yang mudah dan murah untuk diberikan kepada orang lain.

كان رسول الله صلى الله عليه وسلم يفطر على رطبات قبل أن يصلي فإن لم تكن رطبات فعلى تمرات فإن لم تكن حسا حسوات من ماء

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lazim berbuka puasa dengan beberapa ruthab (kurma basah), jika tidak ada maka dengan beberapa tamr (kurma kering), jika tidak ada maka dengan beberapa teguk air.” (HR. At Tirmidzi, Ahmad, Abu Daud, dishahihkan Al Albani di Shahih At Tirmidzi, 696)

Sesungguhnya Allah Ta’ala sangat pemurah kepada hamba-Nya dengan membuka kesempatan menuai pahala begitu luas di bulan yang penuh berkah ini.

3. Bersedekah di bulan Ramadhan lebih dimudahkan.

Salah satu keutamaan bersedekah di bulan Ramadhan adalah bahwa di bulan mulia ini, setiap orang lebih dimudahkan untuk berbuat amalan kebaikan, termasuk sedekah. Tidak dapat dinafikan bahwa realitinya manusia mudah terpedaya godaan syaitan yang senantiasa mengajak manusia meninggalkan kebaikan, syaitan berkata:

فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ

“Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus.” (Qs. Al A’raf: 16)

Sehingga manusia enggan dan berat untuk beramal. Namun di bulan Ramadhan ini Allah mudahkan hamba-Nya untuk berbuat kebaikan, sebagaimana dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

إذا جاء رمضان فتحت أبواب الجنة ، وغلقت أبواب النار ، وصفدت الشياطين

“Jika datang bulan Ramadhan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Bukhari no.3277, Muslim no. 1079)

Dan pada realitanya kita melihat sendiri betapa suasana Ramadhan begitu berbeza dibandingkan dengan bulan lain. Kita cukup bersemangat melakukan amalan kebaikan yang biasanya tidak ia lakukan di bulan-bulan lainnya.

Adapun mengenai apa yang difahami oleh sebahagian dari kalangan kita bahawa setiap amalan sunnah kebaikan di bulan Ramadhan diganjar pahala sebagaimana amalan wajib, dan amalan wajib diganjar dengan 70 kali lipat pahala ibadah wajib diluar bulan Ramadhan, Fakta ini perlu diselidiki . Karena ia disabitkan dengan hadits yang lemah, iaitu hadits:

يا أيها الناس قد أظلكم شهر عظيم ، شهر فيه ليلة خير من ألف شهر ، جعل الله صيامه فريضة ، و قيام ليله تطوعا ، و من تقرب فيه بخصلة من الخير كان كمن أدى فريضة فيما سواه ، و من أدى فريضة كان كمن أدى سبعين فريضة فيما سواه ، و هو شهر الصبر و الصبر ثوابه الجنة ، و شهر المواساة ، و شهر يزاد فيه رزق المؤمن ، و من فطر فيه صائما كان مغفرة لذنوبه ، و عتق رقبته من النار ، و كان له مثل أجره من غير أن ينتقص من أجره شيء قالوا : يا رسول الله ليس كلنا يجد ما يفطر الصائم ، قال : يعطي الله هذا الثواب من فطر صائما على مذقة لبن ، أو تمرة ، أو شربة من ماء ، و من أشبع صائما سقاه الله من الحوض شربة لايظمأ حتى يدخل الجنة ، و هو شهر أوله رحمة و وسطه مغفرة و آخره عتق من النار ،

“Wahai manusia, telah datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya terdapat satu malam yang nilai (ibadah) di dalamnya lebih baik dari 1000 bulan. Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan menghidupkan malamnya sebagai perbuatan sunnah (tathawwu’). Barangsiapa (pada bulan itu) mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan, ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain. Barangsiapa yang mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70 kebaikan di bulan yang lain. Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran itu balasannya surga. Ia (juga) bulan tolong-menolong, di mana di dalamnya rezki seorang Mukmin bertambah (ditambah). Barangsiapa (pada bulan itu) memberikan buka kepada seorang yang berpuasa, maka itu menjadi maghfirah (pengampunan) atas dosa-dosanya, penyelamatnya dari api neraka dan ia memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa (itu) sedikitpun.” Kemudian para Sahabat berkata, “Wahai Rasulullah, tidak semua dari kita memiliki makanan untuk diberikan sebagai buka orang yang berpuasa.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Allah memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan buka dari sebutir kurma, atau satu teguk air atau susu. Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Al Baihaqi, Al Hakim, Ibnu Khuzaimah (no. 1887) dan Al Ash-habani dalam At Targhib (178). Hadits ini didhaifkan oleh para pakar hadits seperti Al Mundziri dalam Targhib Wat Tarhib (2/115), juga oleh Dhiya Al Maqdisi di Sunan Al Hakim (3/400), bahkan dikatakan oleh Al Albani hadits ini Munkar, dalam Silsilah Adh Dhaifah (871).

Ringkasnya, walaupun tidak terdapat kelipatan pahala 70 kali lipat pahala ibadah wajib di luar bulan Ramadhan, pada asalnya setiap amal kebaikan, baik di luar maupun di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan oleh Allah 10 sampai 700 kali lipat. Berdasarkan hadits:

‏إن الله كتب الحسنات والسيئات ثم بين ذلك فمن هم بحسنة فلم يعملها كتبها الله له عنده حسنة كاملة فإن هو هم بها فعملها كتبها الله له عنده عشر حسنات إلى سبع مائة ضعف إلى أضعاف كثيرة

“Sesungguhnya Allah mencatat setiap amal kebaikan dan amal keburukan.” Kemudian Rasulullah menjelaskan: “Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, namun tidak mengamalkannya, Allah mencatat baginya satu pahala kebaikan sempurna. Orang yang meniatkan sebuah kebaikan, lalu mengamalkannya, Allah mencatat pahala baginya 10 sampai 700 kali lipat banyaknya.” (HR. Muslim no.1955)

Oleh karena itu, orang yang bersedekah di bulan Ramadhan akan dilipatgandakan pahalanya 10 sampai 700 kali lipat karena sedekah adalah amal kebaikan, kemudian berdasarkan Al A’raf ayat 16 khusus amalan sedekah dilipatkan-gandakan lagi sesuai kehendak Allah. Kemudian ditambah lagi mendapatkan berbagai keutamaan sedekah. Lalu jika ia mengiringi amalan sedekahnya dengan puasa dengan shalat malam, maka diberi baginya jaminan surga. Kemudian jika ia tidak terlupa untuk bersedekah memberi hidangan berbuka puasa bagi bagi orang yang berpuasa, maka pahala yang sudah dilipatgandakan tadi ditambah lagi dengan pahala orang yang diberi sedekah. Jika orang yang diberi hidangan berbuka puasa lebih dari satu maka pahala yang didapat lebih berlipat lagi. …WaAllahuA’lam

Friday, July 30, 2010

Haram Purdah ? Profesionalkah pemikiran kita ?





Parlimen Bosnia semalam membatalkan perbahasan mengenai satu rang undang-undang untuk mengharamkan pemakaian purdah di tempat awam selepas seorang wanita berpurdah menghadiri sidang dewan sebagai pelawat.
Ahli parlimen Islam dan Croat dijangka menolak rang undang-undang yang dibentangkan parti terbesar Serb Bosnia itu selepas wakil mereka, Nadja Dzidarevic dalam suruhanjaya Parlimen memutuskan ia akan melanggar hak asasi manusia dan kebebasan beragama.
Parlimen sepatutnya membahaskan laporan suruhanjaya itu tetapi membatalkannya kerana ahli dewan Serb Bosnia berkata, mereka berasa terancam kerana kehadiran wanita berpurdah yang dianggap menyembunyikan identiti.
Saudara ku,
Pemakaian purdah di Malaysia adalah jarang dipraktiskan berbanding negara-negara islam lain. Ini memandangkan majoriti kita mengambil pendapat Islam hanya mewajibkan perempuan menutup aurat dari kepala sehingga ke kaki tetapi tidak termasuk muka.

Walaubagaimanapun sebagai golongan yang berfikir secara profesional adalah salah jika kita menolak pendapat sebahagian yang lain yang meletakkan perlunya wanita memakai purdah lebih-lebih lagi pendapat itu diutarakan oleh ulamak yang faqih .
Firman Allah : …. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikannlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (As-Sunnah)……” (QS. An-Nisa’ : 59).

Fitnah terbesar wanita ialah muka(wajah) maka wajib kenakan purdah@niqab@cadar untuk terhindar dari pandangan lelaki ajnabi (asing) yang bukan mahramnya. (Fatwa Al-Allamah Al-Imam Asy-Syaikh Muhammad bin Ibrahim Allu’ Asy-Syaikh dalam Kitab Fatawa wa Rasa’il Hal. 2/153 serta Fatwa Lajnah Daimah lil’ Buhuts Wa ‘Ifta Kerajaan Saudi Arabia).
Di negara barat demi hak kebebasan manusia sebahagian bukan beragama Islam turun kejalan-jalan menyatakan protes mereka terhadap pengharaman burqa @ purdah yang semuanya diharamkan oleh kerajaan yang semua terlebih maklum majoritinya non muslim.Namun agak pelik beberapa buah negara islam juga turut mengharamkan purdah samada secara langsung atau tidak langsung.
Bersamalah kita menghormati hak kebebasan Manusia dan menegakkan keadilan dibumi tercinta ini.WaAAlahua’lam

Friday, June 25, 2010

Najis Yang Dimaafkan

PENGERTIAN NAJIS


Dari segi bahasa, najis bererti benda kotor seperti darah, air kencing dan tahi.

Dari segi syara`, najis bermaksud segala kekotoran yang menghalang sahnya solat.

Pembahagian

Najis dari segi ‘ainnya terbahagi kepada dua:

1. Najis haqiqiyy, iaitu benda kotor sama ada beku atau cair dan sama ada dapat dilihat atau tidak. Ia terbahagi kepada tiga:

i. Mughallazah (berat), iaitu anjing, khinzir dan yang lahir daripada kedua-duanya atau salah satunya.

ii. Mukhaffafah (ringan), iaitu air kencing kanak-kanak lelaki yang tidak makan selain menyusu dan belum mencapai umur dua tahun.
iii. Mutawassitah (pertengahan), iaitu selain dari dua jenis di atas seperti darah, nanah, tahi dan sebagainya.

Semua bangkai binatang adalah najis kecuali ikan dan belalang. Kulit bangkai binatang menjadi suci apabila disamak kecuali kulit khinzir, anjing dan yang lahir daripada kedua-duanya atau salah satunya.

2. Najis hukmiyy, iaitu kekotoran yang ada pada bahagian tubuh badan iaitu hadath kecil yang dapat dihilangkan dengan berwudhu’ dan hadath besar (janabah) yang dapat dihilangkan dengan mandi, atau tayammum apabila ketiadaan air atau uzur daripada menggunakan air.

NAJIS YANG DIMAAFKAN

Tiada sebarang najis yang dimaafkan. Walaupun begitu, syara` memberi kelonggaran terhadap kadar benda najis yang sedikit yang sulit untuk dielakkan, begitu juga untuk memudahkan dan bertolak ansur kepada umatnya. Oleh yang demikian, najis-najis berikut adalah dimaafkan:

1. Najis yang tidak dapat dilihat oleh pandangan sederhana seperti darah yang sedikit dan percikan air kencing.
2. Darah jerawat, darah bisul, darah kudis atau kurap dan nanah.
3. Darah binatang yang tidak mengalir darahnya seperti kutu, nyamuk, agas dan pijat.
4. Tempat berbekam, najis lalat, kencing tidak lawas, darah istihadhah, air kurap atau kudis.

CARA MENYUCI NAJIS
Cara menghilangkan najis ialah dengan beristinja’, membasuh dan menyamak.

Cara menyucikan najis haqiqiyy pula adalah seperti berikut:

1. Najis mughallazah (berat)
Hendaklah dihilangkan ‘ain najis itu terlebih dahulu, kemudian barulah dibasuh dengan air sebanyak tujuh kali, salah satu daripadanya bercampur dengan tanah sehingga hilang sifatnya (warna, bau dan rasa).

2. Najis mutawassitah (pertengahan)
Hendaklah dihilangkan ‘ain najis itu terlebih dahulu, kemudian barulah dibasuh tempat kena najis dengan air sehingga hilang sifatnya (warna, bau dan rasa).

3. Najis mukhaffafah (ringan)

Hendaklah dihilangkan `ain najis itu terlebih dahulu, kemudian cukup sekadar direnjiskan atau dialirkan air ke atasnya.

Untuk menyucikan najis hukmiyy iaitu yang tiada warna, bau dan rasa ialah dengan mengalirkan air ke atas tempat yang terkena najis tersebut.

Thursday, June 24, 2010

Ulamak Perwaris Anbiya


Daripada Abi Hurairah: Bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: Sesungguhnya Allah meredai kamu tiga perkara, dan memurkai kamu tiga perkara. Dia meredai kamu jika kamu beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya sedikitpun, Kamu berpegang teguh dengan tali Allah kesemuanya, kamu menasihati sesiapa yang Allah jadikan dia memerintah urusan kamu. Dia memurkai kamu banyak bercakap (yang tiada faedah), menghilangkan harta dan banyak bertanya (maksudnya pertanyaan yang tidak berfaedah) (Riwayat Malik 2/169).

Hari ini heboh berita ramai ulama akan menyertai UMNO.Sebagai seorang mukmin yang berilmu ( ulamak ) sepatutnya mengelakkan dari sebarang perisytiharan memasuki sesebuah parti politik apatah lagi yang matlamat perjuangan islammnya tidak jelas dan ternyata banyak terlibat dalam amalan maksiat.Kesilapan sebegini bukan sahaja mengundang kepada fitnah dalam masyarakat bahkan boleh diangap sebagai pengkhianat kepada ilmu yang dipelajari.

Sebagai pewaris anbiya, para ulama bertanggung jawab untuk menjaga dan melanjutkan risalah islam. Para ulamalah yang perlu berada di saf hadapan dalam mempertahankan dan menegakkan ajaran Tauhid.

Imam al-Ghazali ( rha )menasihati Sultan Muhammad bin Malik Syah,”Ketahuilah wahai Sultan, engkau adalah makhluk. Engkau diciptakan oleh Maha Pencipta yang menciptakan alam dan seluruh isinya. Dia Maha Esa dan tidak ada sekutu bagi-Nya.” (At-Tibr al-Masbuk fi Nashaih al-Muluk,).

Sabda Nabi saw: ”Seburuk-buruk manusia adalah ulama yang buruk.” Kerusakan ulama adalah kerusakan Islam. Ulama jahat adalah ulama yang jahil tetapi berani memberi fatwa atau ulama yang menjual agamanya untuk kepentingan dunia. Imam al-Ghazali dalam Kitabnya, Ihya’ Ulumuddin, memberikan penjelasan panjang lebar tentang bahaya ulama-ulama jahat, yang disebutnya sebagai ’ulama dunia’.



Rasulullah saw bersabda: ”Di akhir zaman akan ada para ahli ibadah yang jahil dan para ulama yang jahat.” (HR at-Tirmidzi).

Ulama adalah orang yang faqih fid-din, dan sekaligus orang yang bertaqwa kepada Allah. Sebagai pewaris Nabi, mereka harus memiliki kemampuan ilmu dalam masalah risalah kenabian dan sekaligus menjadi role model kepada masyarakat.

Selain mewarisi keilmuan dan risalah kenabian, para ulama di terdahulu juga sering menghadapi ujian yang berat, sebagaimana dialami oleh para Nabi. Imam Malik contohnya pernah disiksa, karena pendapatnya bertentangan dengan gabenor Madinah ketika itu. Imam Abu Hanifah masuk penjara dan menjalani hokum cambuk 10 kali setiap hari, karena menolak berbagai tawaran sebagai mufti dalam pemerintahan Abu Ja’far al-Manshur.

Hari ini setiap tahun beribu-ribu ahli agamawan dikeluarkan dari institusi pengajian di serata pelusuk dunia.Persoalannya,Siapakah dikalangan mereka ulama perwaris Nabi yang perlu kita ikuti dan dijadikan pemimpin kita ?

Didalam kitab -Hidayatul Azkiya ila Thoriqotil Awliya - Shaikh Zainuddin al Malibaari menerangkan cirri-ciri Ulama perwaris Nabi dimana mereka tidak menuntut dunia, dengan ilmunya .Tidaklah berlainan kata-kata dengan perbuatannya. Dan pada perkara perintah dialah yang mula-mula beramalnya. Dan pada larangan dialah yang mula-mula menghindarinya. Dan adalah ia mementingkan ilmu yang nyata membawa gemar kepada taat. Dan ia menjaga dirinya dari ilmu yang melulu membanyakkan kata-kata yang sia-sia dan yang menghiasi perdebatan. Dan ia menjauhi berlebihan tentang makan. Bermewah-mewahan pada perabot dan rumahtangga. Dan menjauhkan bersenang-lenang dan berhias-hias dengan pakaian. Dan cenderung ia kepada redho pada apa yang ada (qana'ah). Dan menjauhi diri ia dari menggauli sultan (pemerintah) , dengan erti tidaklah ia masuk walaupun satu hari kecuali untuk menasihati atau menolak zalim atau memberi pembelaan terhadap apa-apa yang membawa kepada redho Allah. Maka bolehlah masuk. Dan terhadap Fatwa-fatwa, tidaklah ia ceroboh . Dan dikatakannya : {Tanyakanlah hal ini kepada orang yang ahli}. Tidak mau ia berijtihad kalau belum keadaan menentukan harus begitu dan dikatakannya {Saya tidak tau} , bila hal tersebut tidak mudah baginya . Dan bertujuan ia dengan ilmunya untuk mencapai kebahagiaan Akhirat yang besar. Dengan demikian , yang dipentingkannya adalah ilmu batin dan meneliti persoalan hati ,dan keselamatan hatinya dibuat segala macam siasah ( gaya tarbiyah)

Manakala Sifat-sifat ulama Dunia pula :

"Ulamak dunia, Iaitu ulamak yang Jahat. Tujuan mereka dengan ilmunya untuk mendapatkan kesenangan dunia, dan mendapatkan kemegahan dan kedudukan disisi ahli dunia".( Hidayatul Azkiya ila Thoriqotil Awliya)

Imam al-Ghazali menyebut dalam kitab Bidayatul Hidayah :

Sifat Ulamak dunia atau sifat ulamak u’ suu ..

" Dijadikan Ilmunya perantaraan untuk menimbun harta-benda dan berbangga-bangga dengan pengaruh dan jadi mulia dengan sebab banyak pengikut dan menipu ia dengan ilmunya akan segala tipuan, kerana mengharap berhasil segala hajat nya pada dunia. Dalam masa yang sama tersemat dalam hatinya merasa bahwa ia disisi Allah mempunyai kemuliaan dan kedudukan, kerana dia sudah bergaya dengan gaya ulamak , , tingkah-laku dan cara berbicara, padahal dia dengan zahir dan batinnya cenderong kepada dunia.

Maka inilah orang yang termasuk dalam golongan orang yang binasa dan orang kurang akal yang terpedaya. Kerana harapan untuk bertaubat telah putus darinya. Sebab pada sangkaannya dia sudah tergolong dikalangan orang yang baik-baik. Tetapi dia lalai dari memerhatikan firman Allah " Hai orang yang beriman , mengapa kamu katakan suatu perkara padahal kamu tidak lakukannya?". Dan dia sudah termasuk dalam status yang disabdakan Nabi s.a.w " Ada sesuatu yang lebih daku bimbangkan atas kamu lebih dari Dajjal. maka sahabat bertanya " Apakah itu Ya Rasulullah?". Sabdanya "Ulama yang jahat".

Mudahan kita terselamat dari fitnah ini dengan kita berpegang teguh kepada Alquran dan As-sunnah sepetimana Sabda Nabi SAW.

Daripada Abi Najih 'Irbadh bin Sariyah ra. berkata : "Telah menasihati kami oleh Rasulullah saw akan satu nasihat yang menggetarkan hati kami dan menitiskan air mata kami ketika mendengarnya, lalu kami berkata : Ya Rasulullah! Seolah-olah ini adalah nasihat yang terakhir sekali maka berilah pesanan kepada kami. Lalu baginda pun bersabda : "Aku berwasiat akan kamu supaya sentiasa bertakwa kepada Allah dan mendengar serta taat (kepada pemimpin) sekalipun yang memimpin kamu itu hanya seorang hamba. Sesungguhnya sesiapa yang panjang umur nya daripada kamu pasti ia akan melihat perselisihan yang banyak. Maka hendaklah kamu berpegang teguh dengan sunnah ku dan sunnah para Khulafa Ar Rasyidin Al Mahdiyin (Khalifah-Khalifah yang mengetahui kebenaran dan mendapat pimpinan ke jalan yang benar) dan gigitlah sunnah-sunnah itu dengan gigi geraham dan jauhilah perkara-perkara yang baharu (bid'ah) yang diada-adakan, kerana sesungguhnya tiap-tiap bid'ah itu adalah sesat".


Kesimpulannya setiap kebenaran dan kebatilan itu jelas sekiranya kita berusaha mencarinya.Panduan kita bukanlah pada tokoh tertentu sebaliknya pada jalan yang telah ditunjuki oleh para Nabi Nabi dan ulamak yang menepati sunnahnya ( Nabi Muhammad SAW )

Wednesday, June 16, 2010

ADAB KETIKA BERDOA

Kebiasanya seseorang melakukan do'a mengangkat tangannya,ini berdasarkan sabit hadis Nabi saw :
إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

"Sesungguhnya Allah itu amat pemurah, dan ia tidak menyukai menghampakan hambanya dengan tangan kosong apabila ia menangkatnya kepadanya"
 (Hadith riwayat Al-Tirmudzi #3556, sahih oleh al-Albani didalam Sahih Al-Tirmudzi.)


Diadalam Kitab Tuhfat al-Ahwadhi mengatakan bahawa hadith ini menegaskan adalah mustahab mengangkat tangan apabila melakukan doa. Sebenarnya banyak lagi hadith yang menerangkan tentang mustahabnya mengangkat tangan.
Menurut Sheikh Al-Islam Ibnu Taimiyah :
وأما رفع لقول النبي صلى الله عليه وسلم يديه في الدعاء : فقد جاء فيه أحاديث كثيرة صيحة، مسحه وجهه بيديه فليس عنه فيه الاحديث، أو حديثان،
"Dan bagi mengangkat tangan ketika berdo'a adalah merupakan perkataan Nabi saw : Telah datang darinya banyak hadith-hadith yang sahih, menyapu wajah dengan tangan bukanlah ada didalam hadith atau hadith-hadith".
الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء يا رب يا رب ، ومطعمه حرام ومشربه حرام وملبسه حرام وغذي بالحرام ، فأنى يستجاب له ؟ ) رواه مسلم في صحيحه
Kemudian diperingatkan dengan "seorang lelaki yang bermusafir jauh dan dipenuhi habuk, mengangkat tangan keatas langit seraya berkata :'Ya Tuhan ku Ta Tuhan ku', akan tetapi makanan yang dimakan dari yang haram, dan minumannya dari yang haram, dan semuanya dijadikan dengan yang haram, maka bagaimana dikabulkan keatas permintaannya?" - (Riwayat oleh Muslim didalam Shahih).

Sheikh Abdul Aziz bin Baaz memberi komentar diatas hadith diatas mengatakan :"ia menunjukkan bahawa mengangkat tangan merupakan satu cara (adab) bagi sesuatu do'a itu dikabulkan, dan menjelaskan bahawa mengambil sesuatu yang haram merupakan salah satu perkara dimana do'a seseorang itu tidak di kabulkan."

Berapa pandangan mengenai mengangkat tangan semasa berdo'a


Rata-rata atau umumnya mengangkat tangan semasa do'a adalah mustahab. Ia merupakan salah satu daripada kaedah berdo'a sebagaimana yang dijelaskan diatas yang disandarkan kepada hadith-hadith sahih. Disini kita memetik fatwa dari Sheikh Abdul Aziz bin Baaz mengenai beberapa situasi mengenai angkat tangan ketika berdo'a. Kata beliau:


فهذا من أسباب الإجابة إلا في المواضع التي لم يرفع فيها النبي صلى الله عليه وسلم فلا نرفع فيها ، مثل خطبة الجمعة ، فلم يرفع فيها يديه ، إلا إذا استسقى فهو يرفع يديه فيها .
كذلك بين السجدتين وقبل السلام في آخر التشهد لم يكن يرفع يديه صلى الله عليه وسلم فلا نرفع أيدينا في هذه المواطن التي لم يرفع فيها صلى الله عليه وسلم .
لأن فعله حجة وتركه حجة ، وهكذا بعد السلام من الصلوات الخمس . كان صلى الله عليه وسلم يأتي بالأذكار الشرعية ولا يرفع يديه ، فلا نرفع في ذلك أيدينا إقتداء به صلى الله عليه وسلم أما المواضع التي رفع صلى الله عليه وسلم فيها يديه فالسنة فيها رفع اليدين تأسياً به صلى الله عليه وسلم ولأن ذلك من أسباب الإجابة ، وهكذا المواضع التي يدعو فيها المسلم ربه ولم يرد فيها عن النبي صلى الله عليه وسلم رفع ولا ترك فإنا نرفع فيها للأحاديث الدالة على أن الرفع من أسباب الإجابة كما تقدم .


"[mengangkat tangan] ini merupakan salah satu sebab dikabulkan do'a., melainkan terdapat beberapa situasi dimana Nabi saw TIDAK mengangkat tangan, misalnya do'a pada Khutbah Jumaat, dimana dia tidak mengangkat tangan, melainkan apabila bersolat memohon hujan (Solat istisqa'), beliau telah mengangkat tangannya.

Begitu juga duduk diantara 2 sujud dan sebelum salam diakhir Tashahud , baginda saw tidak mengangkat tangannya, maka kita tidak boleh mengangkat tangan dimasa itu kerana Nabi saw tidak mengangkat tangannya.
Disebabkan melakukannya berdasar nas dan tidak melakukannya juga [tidak angkat tangan] juga berdasarkan nas. Begitu juga selepas salam didalam solat yang lima, Nabi saw akan melakukan zikir yang telah dinyatakan oleh syariat akan tetapi beliau tidak mengangkat tangan, maka kita lakukan sedemikan menurut beliau sebagai contoh. Akan tetapi, didalam situasi beliau mengangkat tangan, adalah menjadi sunnah mengangkat tangan, mencontohi perbuatan baginda, kerana ia merupakan satu cara menjadikan do'a kita dijawab oleh Allah swt. Begitu juga dengan situasi didalam seorang Islam memohon sesuatu dari Allah, dan tidak ada riwayat bahawa Nabi saw mengangkat tangan atau tidak. Maka kita dibolehkan mengangkat tangan, kerana disana ada hadith yang menunjukkan mengangkat tangan merupakan salah satu cara agar do'a kita di jawab, seperti yang disebab tadi."


"Disana ulama mengatakan adalah menjadi syariat mengangat tangan semasa berdo'a, malah merupakan mengatakan sunat, kerana menyerupai perlakuan Nabi saw - ada juga kumpulan yang memakruhkan mengangkat tangan kecuali/melainkan didalam Solat istisqa' (mohon hujan), kerana Hadith dari Anas :


كان النبي ـ صلى الله عليه وسلم ـ لا يرفع يديه في شيء من دعائه إلا في الاستسقاء فإنه كان يرفع يديه حتى يرى بياض إبطيه


"Bahawa Rasulullah saw tidak sekali-kali mengangkat tangan didalam do'a kecuali didalam istisqa', maka beliau telah mengangkat tangan sehingga tampak keputihan ketiaknya" - (Riwayat Al-Bukari dan Muslim).


Sebahagian memakruhkan mengangkat tangan secara mutlak didalam Istisqa' dan lain-lain, kerana Hadith Muslim dari 'Imaarah bin Rubiyyah, telah melihat Basyir bin Marwan diatas Mimbar mengangkat tangannya, maka berkata :


قَبَّحَ الله هاتين اليدين، لقد رأيت رسول الله ـ صلى الله عليه وسلم ـ ما يزيد على أن يقول بيده هكذا، وأشار بأصبعه المسبحة "تفسير القرطبي ج 7 ص 255" .


"Allah akan memburukkan kedua-dua tangan ini, aku telah melihat nabi saw - tidak menambah keatasnya dengan berkata dengan tangannya dan begitu, dan baginda telah mengunakan isyarat dengan jari telunjuk - sebagaimana didalam Tafsir Qurthubi 7/255"

Dalil menunjukkan membalikkan tangan semasa berdo'a

Disana terdapat dalil yang menunjukkan membalikkan tangan semasa berdo'a, sebagaimana menurut Sheikh Atiyah Saqr :


قال ابن حجر في الفتح: قال العلماء: السُّنَّةُ في كل دعاء لرفع بلاء أن يرفع يديه جاعلاً ظهر كفيه إلى السماء، وإذا دعا بحصول شيء أو تحصيله أن يجعل بطن كفيه إلى السماء. وكذلك قال النووي في شرح صحيح مسلم، حاكيًا لذلك عن جماعة من العلماء. وقيل:الحكمة في الإشارة بظهر الكفين في الاستسقاء دون غير التفاؤل بتقلب الحال كما قيل في تحويل الرداء "المرجع السابق".


"Berkata Ibnu Hajar didalam Al-Fath Bari : Berkata ulama' : Sunnah setiap kali berdo'a menghindar bala' mengangkat tangannya menjadikan belakang tangan mengadap ke langit (terbalik), jika berdo'a untuk mendapat sesuatu hasil maka jadikan tapak tangan mengadap langit. Begitulah yang dikatakan oleh Imam Al-Nawawi didalam syarah Sahih Muslim, dan berkata dikalangan kumpulan ulama. Kata mereka : Hikmah mengisyaratkan belakang tapak tangan apabila memohon air hujan tanpa selainnya hanyalah optimistik berubahnya keadaan sebagaimana diperingkat didalam bertukar posisi kain sibai, merujuk kepada nas sebelum ini.

1. Menterbalikkan tangan ketika doa tolak bala'


2. Doa: terbalikkan telapak tangan


Pandangan Rumah Fatwa Saudi


Didalam fatwa bernombor 3907 dari al-Lajnah al-Daa’imah li’l-Buhooth al-‘Ilmiyyah wa’l-Ifta, ulama'-ulama'nya menyebut :


السنة أن يجعل بطون يديه إلى السماء وظهورهما إلى الأرض؛ لما روي أن النبي صلى الله عليه وسلم :


إذا سألتم الله فاسألوه يبطون أكفكم، ولاتسألوه بظهورها

"Adalah Sunnah menjadikan tapak tangan mengadap ke langit dan belakang kedua-dua tangan mengadap ke bumi, sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi saw :


Apabila kamu memohon kepada Allah, maka hendaklah kamu lakukan dengan kedua tapak tangan kamu, jangan kamu memohon dengan menggunakan kedua belakang tangan kamu" - (hadith riwayat : Abu Daud 2/164-165 bernombor 1485,1486, Ibnu Maajah 1/373, 2/1272, Al-Hakim 1/536, Al-Baihaqi 2/212 dan lain-lain). "


Angkat tangan semasa berdo'a merupakan perkara mustahab. Akan tetapi terdapat situasi-situasi tertentu yang menunjukkan Nabi saw tidak mengangkat tangan semasa berdo'a, seperti do'a didalam tashahud dan do'a didalam Khutbah Jumaat atau Eid. Ada juga ulama' yang mengatakan hanya boleh mengangkat tangan semasa solat istisqa' sahaja. Umumnya, ulama' bersetuju bahawa mengangkat tangan didalam do'a itu merupakan satu cara bagi do'a kita dijawab oleh Allah swt. Mengenai isu membalikkan tangan semasa berdo'a, ada dikalangan mereka yang membenarkan semasa berdo'a menjauhkan bala, dan terdapat juga dikalangan mereka yang lebih menyukai tidak membalikkan tangan semasa berdo'a. Wallahu'alam.




================


Rujukan :

1. Abdul Rahman Mohd bin Qasim. Majmu' fatawa Sheikh Al-Islam Ahmad bin Taimiyah - 22. Mekah : Percetakan Hukumah, 19??. ms 519.

2. Dr Wahbah Zuhaily. Fiqh Al-Islami wa 'adilatuhu - I. cetakan ke 3. Damsyik : Dar al-Fikr, 1989.ms. 804.

3. Sheikh Abdul Aziz bin Baaz. Majmu’ Fataawa wa Maqaalaat li’l-Sheikh Ibn Baaz - 6. Riyad : Dar Al-Watan, 1998. ms 124


4. Sheikh Atiyyah Saqr.رفع الأيدي بالدعاء url : http://www.islamonline.net/fatwa/arabic/FatwaDisplay.asp?hFatwaID=13258

5. Fataawa al-Lajnah al-Daa’imah li’l-Buhooth al-‘Ilmiyyah wa’l-Ifta - 8. Riyad : Dar Al-Mu'ayad, 2000. ms 328.

Tuesday, June 8, 2010

Rasionalkah Naib Presiden PAS Dikalangan Wanita ???


Hari ini sumbangan wanita dalam pembangunan negara amatlah besar sekali dimana kita diperlihatkan betapa semakin ramai wanita mampu menjadi pembuat dasar yang baik.Bahkan di segi pencapaian akademik pelajar wanita tampak lebih kedepan bebanding lelaki. Secara teorinya permasalahan ini berlaku akibat kaum lelaki yang kurang cemerlang dan ramai yang tersesat dengan budaya hedonisme.

Secara logikanya adalah wajar kepimpinan saf hadapan perlu kepada golongan yang paling berilmu dan bijak ,Namun begitu pelbagai implikasi jangka panjang perlulah diberi pertimbangan.

Sebenarnya islam telah mengariskan jalan hidup yang sempurna untuk seluruh ummah.Namun begitu kita kekadang alpa dan terleka untuk kembali kepada panduan itu apabila belaku sesuatu permasalahan. Umpama pengembara dihutan yang tebal yang meninggalkan peta/kompas sebaliknya menggunakan aliran sungai untuk mencari jalan keluar.Walaupun secara teorinya aliran sungai akan kelaut.Namun begitu ini bukalah methode yang tepat ?

Bebalik kepada isu wanita untuk diketengahkan sebai pemimpin saf hadapan terdapat banyak dalil membahaskannya.sepertimana firman Allah yang bermaksud

"Laki-laki adalah pemimpin atas wanita, karena kelebihan yang Allah berikan kepada mereka (laki-laki), dan karena nafkah berupa materi yang mereka berikan (kepada istri). Wanita yang baik adalah mereka yang taat (kepada Allah dan suaminya), menjaga (amanat) saat suaminya tidak ada, sesuai dengan perintah Allah...." (Q.S. An-Nisa (4) ayat 34)

Abu Bakrah berkata,

لَمَّا بَلَغَ رَسُولَ اللَّهِ –‏‎ ‎صلى الله عليه وسلم – أَنَّ أَهْلَ‏‎ ‎فَارِسَ قَدْ مَلَّكُوا عَلَيْهِمْ‏‎ ‎بِنْتَ كِسْرَى قَالَ » لَنْ‏‎ ‎يُفْلِحَ قَوْمٌ وَلَّوْا‎ ‎أَمْرَهُمُ امْرَأَةً »

“Tatkala ada berita sampai kepada Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bahwa bangsa Persia mengangkat putri Kisro (gelar raja Persia dahulu) menjadi raja, beliau shallallahu ’alaihi wa sallam lantas bersabda, ” Suatu kaum itu tidak akan bahagia apabila mereka menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita”.” (HR. Bukhari no. 4425)

Jumhur ulama bersepakat bahwa syarat al imam al a’zhom haruslah laki-laki. (rujuk Adhwa ’ul Bayan, 3/34, Asy Syamilah).Al Baghowiy mengatakan dalam Syarhus Sunnah (10/77) pada Bab ”Terlarangnya Wanita Sebagai Pemimpin”: ”Para ulama sepakat bahwa wanita tidak boleh diangkat sebagi pemimpin dan juga hakim. Alasannya, karena pemimpin harus memimpin jihad. Begitu juga seorang pemimpin negara haruslah menyelesaikan urusan kaum muslimin. Seorang hakim perlu menyelesaikan pertikaian.. Sedangkan wanita dibatasi oleh aurat .

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam Besabda :

ما رأيت من ناقصات عقل ودين أغلب للب‎ ‎الرجل الحازم من إحداكن فقيل يا رسولا‎ ‎لله ما نقصان عقلها ؟ قال أليست‎ ‎شهادة المرأتين بشهادة رجل ؟ قيل يا‎ ‎رسول الله ما نقصان دينها ؟ قالأ‎ ‎ليست إذا حاضت لم تصل ولم تصم ؟

“Tidaklah aku pernah melihat orang yang kurang akal dan agamanya sehingga dapat menggoyangkan laki-laki yang teguh selain salah satu di antara kalian wahai wanita.” Lalu ada yang menanyakan kepada Rasulullah, ”Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud kurang akalnya?” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam pun menjawab, ”Bukankah persaksian dua wanita sama dengan satu pria?” Ada yang menanyakan lagi, ”Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan kurang agamanya?” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam pun menjawab, ”Bukankah ketika seorang wanita mengalami haidh, dia tidak dapat melaksanakan shalat dan tidak dapat berpuasa?” (HR. Bukhari dan Muslim)

Persoalan yang ketara disini …Sekiranya lebih ramai wanita ditampilkan di saf hadapan siapakah yang akan memimpin dalam hal yang khusus terutama dalam mendidik anak dan melayani suami di rumah. Dimana pembinaan keluarga yang sejahtera adalah kunci kearah umat yang cemerlang dimasa depan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا‎ ‎تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ‏‎ ‎الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى‎ ‎وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآَتِينَ‏‎ ‎الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ‏‎ ‎وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ‏‎ ‎اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ‏‎ ‎الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ‏‎ ‎وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا

“Dan hendaklah kamu( wanita ) tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al Ahzab: 33)

Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

وَالْمَرْأَةُ فِى بَيْتِ زَوْجِهَا‎ ‎رَاعِيَةٌ وَهْىَ مَسْئُولَةٌ عَنْ‏‎ ‎رَعِيَّتِهَا

“Wanita menjadi pemimpin di rumah suaminya, dia akan dimintai pertanggungjawaban mengenai orang yang diurusnya.” (HR. Bukhari no. 2409)

Syaikh Bakar Abu Zaid berkata, “Masing-masing wajib mengimani dan menerima bahwa harus ada perbedaan antara laki-laki dan wanita, baik dari segi lahir dan batin, menurut tinjauan syari’at Islam. Masing-masing harus ridho dengan taqdir Allah dan syari’at Islam.

Perbedaan ini adalah semata-mata menuju keadilan, dengan perbedaan ini kehidupan bermasyarakat menjadi teratur. Tidak boleh masing-masing berharap memiliki kekhususan yang lain.Kerana segenius manapun pemikiran kita .Kita tidak mampu menadingi kebiksaana pencipta kita. Kita perlu mengutamakan rububiyyah kita kepada Allah dalam setiap perkara.

Menyentuh isu jawatan Naib Presiden PAS perlu diberi ruang kepada wanita.Sebolehnya ia perlu dibahaskan mengikut kesarjanaan oleh ulamak muktabar.Dimana posisi ini sangat penting apatah lagi fenomena hari ini PAS amat memerlukan barisan pimpinan pelapis untuk diuji kemampuannya sebelum diberi amanah menerajui jemaah.Sebagai pendokong jemaah islam sepatutnya lebih maklum bahawa ketentuan di dalam Islam adalah jelas dan terbukti telah membawa kepada kesejahteraan sejagat.Sebarang inisiatif terutama dari kalangan pimpinan untuk menimbulkan isu yang diketahui boleh mencetuskan konflik dikalangan masyarakat awam adalah kurang bijak dan tidak bertangungjawab .

Monday, May 10, 2010

Hari Ibu ....Dari Siapa Untuk Siapa ???

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ سَلَكُوا
جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ
“Kamu akan mengikuti perilaku orang-orang sebelum kamu sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke lubang biawak pun kamu akan ikut memasukinya.”
Para sahabat lantas bertanya, "Apakah yang anda maksud orang-orang Yahudi dan Nasrani, ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Siapa lagi (kalau bukan mereka) "
(Riwayat Imam Bukhari)


Saudaraku,
Secara tidak sedar kini kita sudah berada dalam jaringan lubang biawak yang dalam dan berserabut hasil peninggalan penjajah Barat dan kesan weternisasi. Seolah-olah perkembangan pola pikir kita berlandskapkan permasalahan yang sama yang dideritai oleh barat. Akibatnya kita menelan segala pil yang dicipta barat bagi menyelesaikan segala permasalahan mereka. Seumpama orang yang berpenyakit yang terpaksa menelan pelbagai jenis pil yang ditetapkan doktor untuk penyembuhan tetapi si anak yang diterangkan transkripsi ubat oleh sang doktor untuk diberi kepada ibunya yang sakit turut menelan ubat yang sama. Beliau tidak menghadapi penyakit tersebut tetapi kerana terpesona dengan penerangan dan penjelasan atau kagum dengan si doktor. Betapa bodohnya dia.


Inilah yang dihadapi oleh umat Islam khususnya para pemerintah mereka. Seolah-olah terkapai-kapai tanpa sumber dan panduan. Mereka menelan semua pil barat untuk menghadapi penyakit-penyakit yang melanda Barat sedangkan segala virus dan punca penyakit tersebut juga mereka bawa dan datangkan dari barat. Sebenarnya mereka bercelaru dari segi welstanchaungnya (world view). Inilah juga yang menimpa kepada rakyat dan umat Islam.



Di barat, institusi keluarga menjadi hancur lebur. Kebanyakan mereka lebih memilih untuk bersekedudukan daripada mengamalkan institusi kekeluargaan. Lebih 50% bahkan sesetengah negara barat mencecah 2/3 rakyat mereka adalah lahir daripada anak luar nikah. Apabila mereka berusia 18 tahun, mereka bebas tanpa ikatan daripada keluarga mereka. Dasar materialisme dan individualistik amat mencengkam masyarakat mereka. Masing-masing mementingkan diri sendiri. Negaralah yang menguruskan anak-anak dan ibu-bapa yang bermasalah dan golongan tua. Krisis nilai dan akhlak jatuh melebihi tahap binatang. Hubungan kekeluargaan amat rapuh. Seolah tiada ikatan anatara anak serta ibu-bapa, antara isteri dan suami. Apatah lagi jiran tetangga maupun adik beradik, ipar duai. Kamu.. kamu, aku.. aku.

Sebab itulah mereka memperkenalkan pelbagai jenis hari. Hari Ibu, Hari Bapa, Hari Pekerja, Hari Guru, Hari Jururawat… dan seribu jenis hari perayaan dan pelabagai cuti demi mengingatkan dan menghargai pelbagai golongan tersebut. Ini berlaku kerana krisis akhlak dan nilai moral yang sudah hilang. Tiada lagi ingatan, penghormatan, penghargaan yang diamalkan secara normal bahkan memerlukan ingatan secara paksaan. Dalam masa yang sama mereka juga mempunyai agenda dalam meng’kudus’kan icon-icon tertentu untuk memperkukuhkan kehendak dan perancangan agama dan kehendak pemerintah mereka. Apatah lagi agenda Yahudi-Nasara ini yang cuba untuk menglobalkan pemakaian cara hidup mereka atas dunia ini khususnya dunia Islam.



Dunia Islam sepatutnya tidak menghadapi isu korup aqidah dan akhlak yang amat menjijikkan ini. Bukan sekadar kita diikat dengan syaraiat dan akhlak Islam tetapi juga batas budaya dan kesopanan bangsa. Tetapi kini ia mula mencair akibat dunia kita diletakkan dalam parit dan saluran barat, yang mau tak mau, seluruh rakyat menuruti kehendak massa yang terdorong mengikuti life-stail barat yang penghujungnya adalah septik-tank yang penuh dengan tahik-tahik barat.



Dalam Islam isu-isu kekeluargaan, hak-hak sepatutnya tidak berbangkit. Tidak memerlukan HAM (Hak Asasi Manusia-PBB) untuk ditegak dan dipraktikkan. Islam yang dibawa oleh Rasulullah Saw mengatasi tarikh dan kewujudan PBB itu sendiri. Apa yang dibawa oleh Baginda bersesuaian dengan fitrah kejadian manusia itu sendiri apatah ianya diturunkan oleh Pencipta manusia dan Pemilik dunia dan cakrawala ini.



Sepatutnya tidak perlu satu hari khusus untuk Ibu dan satu hari khusus untuk Bapa. Di Barat mungkin ya. Tetapi tidak untuk umat Islam apatah lagi dia seorang mukmin. Setiap hari bagi si mukmin adalah hari ibu dan hari bapa. Sebab selagi mana ia tidak syirik kepada Allah selagi itulah dia mengikatkan ikatan syahadahnya itu untuk berbuat baik terhadap ibu-bapanya sendiri. Ini difirmankan Allah:



أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Jangan sesekali kamu syirik kepada Allah dan kepada dua ibu-bapa kamu hendaklah berbuat baik





Ada 4 tempat didalam al-Quran yang menggabungkan ayat tauhid dan taat ibu-bapa ini. Dan pastinya seorang mukmin tidak berlaku akhlak buruk yang melupakan ibu-bapa ini kecuali dia adalah muslim saduran.



Kalau Barat sendiri Hari Ibu mesti datang dari asal-usul dan punca kepercayaan mereka sendiri. Satu aliran pemikiran mengakui bahawa perayaan ini lahir dari satu adat pemujaan ibu di Yunani Purba, yang menyambut satu perayaan untuk Cybele, ibu dewa-dewi Yunani yang agung. Perayaan ini diadakan sekitar equinoks musim bunga di Asia Kecil dan tidak lama kemudian di Rom dari 15 hingga 18 Mac. Orang Rom Purba juga menyambut sebuah perayaan bernama Matronalia yang memperingati Dewi Juno, dan ibu lazimnya diberi hadiah pada hari tersebut.



Peringatan Mother’s Day di sebagian negara Eropah mendapat pengaruh dari kebiasaan memuja Dewi Rhea, istri Dewa Kronus, dan ibu para dewa dalam sejarah Yunani kuno. Maka, di negara-negara tersebut, peringatan Mother’s Day jatuh pada bulan Mac. Di Amerika Syarikat dan lebih dari 75 negara lain, seperti Australia, Kanada, Jerman, Itali, Jepun, Belanda, Singapura, Taiwan, Hongkong termasuk Malaysia peringatan Mother’s Day jatuh pada hari Minggu kedua bulan Mei kerana pada tarikh itu pada tahun 1870 aktivis sosial Julia Ward Howe mencanangkan pentingnya perempuan bersatu melawan perang saudara. Dan kini, masing-masing cuba menjadikan hari ibu sebagai hari memperingati tokoh-tokoh negara mereka. Malah di China, sesetengah rakyat China sedang mula memupuk Hari ibu sebagai memperingati Meng Mu, ibu kepada Mencius.



Dalam Islam, pengajaran yang menukilkan tentang si ibu ini diungkapkan dalam al-Quran yang telah diturunkan kepada Rasulullah Saw semenjak 14 abad yang lalu dan berjaya mewujudkan satu tahap manusia yang memberi pengiktirafan yang tinggi terhadap ibu-ibu mereka. Apatah lagi isu kewanitaan telah diangkat martabat mereka semenjak kedatangan Islam setelah sekian lama wanita menjadi status hamba kepada kaum lelaki, sebagai kilang untuk melahirkan anak-anak mereka maupun sebagai sembahan kepada tuhan-tuhan yang anggapan mereka adalah lelaki yang memerlukan wanita-wanita. Sehingga ke hari ini tahap wanita masih lagi sebagai ikon seks mereka dan sebagai agen pengiklanan untuk mempromosi barangan yang diletakkan nilai dan harta seumpama barangan semata. Ianya masih lagi pemilikan kepada individu tetapi dalam bungkusan envelope moden.



Dalam Islam bebanan Ibu-bapa amat berat sehingga ibu-bapa mereka ini sebagai tanggung-jawab taklif terhadap mukmin keatas setiap batang tengkok si anak itu sendiri sehingga dosa penderhakaan itu hampir mencapai tahap syirik kepada Allah sebagaimana firman Allah Swt dalam surah al-Isra’ : 23



وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.

Mengikut pandangan ulama, sudah cukup dikira derhaka jika dalam sehari ia tidak mendoakan kesejahteraan buat ibu-bapanya. Selayaknya seorang mukmin sentiasa mendoakan mereka setiap kali selepas sembahyang dengan doa yang ma'thur yang diajar oleh Rasulullah Saw. Itulah sebai-baik 'wish' dan ucapan buat ibu maupun bapa. Dengan apa yang diajar dan diucapkan oleh lidah yang mulia, iaitu Rasulullah Saw. Setiap hari 5 kali sehari semalam. Bukannya setahun sekali. Setiap kali bertemu dikucupnya tangan mereka maupun selepas tiap kali ada peluang. Bukannya tunggu hariraya sekali setahun. Sentiasalah berbuat baik kepada mereka dengan adab dan akhlak Islam. Tidak cukup sekadar sekeping kad dan setangkai bunga.



Rasulullah Saw bersabda:



قَالَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ : سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى مِيقَاتِهَا قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ



Berkata Abdullah bin Mas’ud r.a: Aku bertanyakan rasulullah Saw. “ Ya Rasulullah. Apakah amalan yang afdhal? Sabda Baginda: “Sembahyang ketika waktunya”. Kemudian apa lagi. Jawab Baginda: “Berbuat baik kepada ibu-bapa”. Aku bertanya lagi, kemudia apa? Jawab Baginda: Jihad sabilillah. Riwayat Bukhari.





Tuntutan dalam memenuhi keperluan si ibu dilebihkan oleh Islam berbanding si ayah. Faktor kelemahan fizikal, usia dan betapa perlunya ia menerima kasih-sayang dan bantuan, apatah lagi di usia emas mereka. Sehingga Rasulullah Saw mensabdakan beberapa potong hadis. Antaranya:



عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ صَحَابَتِي قَالَ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أُمُّكَ قَالَ ثُمَّ مَنْ قَالَ ثُمَّ أَبُوكَ

Daripada Abu Hurayrah r.a berkata: Telah datang seorang lelaki dan bertanya. Ya Rasulullah siapakah orang yang lebih berhak untuk aku santuninya dengan terbaik? Rasulullah bersabda : ibu kamu, kemudian siapa? Sabda Baginda : ibu kamu, kemudian siapa? Bersabda Rasulullah : ibu kamu, kemudian siapa? Ayah kamu. Riwayat Bukhari



Ianya dikuatkan dengan firman Allah dalam surah Luqman ayat: 14



وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ



"Dan Kami wajibkan manusia berbuat baik kepada kedua ibu bapanya; ibunya mengandungnya dengan menanggung kelemahan demi kelemahan (dari awal mengandung hingga akhir menyusunya) dan tempoh menceraikan susunya ialah dalam masa dua tahun; (dengan yang demikian) bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua ibu bapamu; dan (ingatlah), kepada Akulah juga tempat kembali (untuk menerima balasan).



Hadis riwayat ibn Majah pula menyebut tentang seorang lelaki yang acapkali bertanyakan soalan untuk keluar berjihad tetapi disuruh oleh baginda menjaga ibunya itu lebih afdhal.



عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ جَاهِمَةَ السُّلَمِيِّ قَالَ : أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنِّي كُنْتُ أَرَدْتُ الْجِهَادَ مَعَكَ أَبْتَغِي بِذَلِكَ وَجْهَ اللَّهِ وَالدَّارَ الْآخِرَةَ قَالَ وَيْحَكَ أَحَيَّةٌ أُمُّكَ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ ارْجِعْ فَبَرَّهَا



Daripada Muawiyyah bin Jahimah al-Sulami berkata: Aku mendatangi Rasulullah Saw dan berkata: Ya Rasulullah. Aku ingin keluar berjihad bersama kamu untuk mencari keredhaan Allah dan Hari Akhirat. Sabda Baginda: Adakah ibu kamu masih hidup?. Jawabku: Ya. Sabda Baginda: Pulanglah dan jagalah ibumu sebai-baiknya.



Kita juga tahu akibat daripada tingkah laku sebaliknya. Bagaimana fitnah yang dihadapi oleh Juraij akibat tidak menyahut panggilan ibunya ketiaka beliau melakukan solat-solat sunatnya. Apa yang ditimpakan terhadap Alaqamah yang tidak mampu mengucap dua kalimah syahadah ketika hampir matinya akibat ia mendahulukan isteri daripada ibunya. Kecualilah jika ibunya mendorong dan menyuruh kepada kekufuran atau kemaksiatan. Apabila bertembung taat makhluk dengan Allah ketahuilah bahawa ketaatan kepada Allah dan Rasul itu adalah mutlak. Seperti apa yang diriwayatkan dalam Hadis Muslim kisah Saad bersama ibunya yang mengadu kepada Rasulullah Saw yang cuba memaksanya meninggalkan Islam dan meninggalkan Rasulullah Saw. Ia mengugut untuk tidak makan dan minum sehingga mati kecuali jika Saad murtad. Allah Swt menurunkan firmanNYa:



وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ



Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan. Surah Luqman: 15



Berdasarkan diatas, jika mereka seorang yang benar-benar beriman, nescaya tidak berlakunya kelompangan akhlak terhadap ibu-bapanya. Tidaklah ia menjadi masyarakat kurang ajar terhadap mereka yang melahirkannya kecualilah ibu-bapa mereka itu juga buruk akhlak dengan tuhannya atau buruk akhlak dengan datuk dan nenek mereka. Nescaya kemana ditumpahkan kuah kalau tidak ke nasi. Di harapkan tidak lagi terjadi kecelaruan umat Islam yang teraba-raba seperti sibuta kehilangan tongkat. Ikut tercapai dek tangan meskipun kayu berduri dan berbisa. Ingatlah kita ada al-Quran serta Hadis sebagai rujukan. Cukuplah Islam sebagai ubat dan penawar kepada ummah. Selagi tak kembali kepada panduan suci itu, selagi itulah umat Islam tidak lepas daripada penyakit serta virus yang diciptakan itu.



Habis bagaimana dengan sambutan ‘Hari Ibu’ yang disambut kini. Setengah ulama seperti Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin ada yang membid’ahkan sambutan tersebut kerana setiap hari raya yang bertentangan dengan hari raya yang disyariatkan adalah bid'ah dan tidak dikenal pada masa salafushalih. Apatah lagi pencetusnya bukan kaum muslimin, sehingga di dalamnya ada bid'ah menyerupai musuh-musuh Allah. Hari raya-hari raya yang disyariatkan sangat dikenal oleh pemeluk Islam, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha, serta Idul Usbu' (hari Jum'at). Dalam Islam tidak ada hari raya lain selain tiga hari raya tersebut, maka setiap hari raya yang diadakan di luar tiga hari raya itu ditolak, bid'ah dan batil menurut syariat Allah, karena Nabi Saw bersabda:



مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

"Barang siapa yang mengadakan sesuatu amalan baru dalam urusan (ibadah) kami yang bukan daripadanya (Nabi) maka ia tertolak." (HR Muttafaqun alaihi).



Memandangkan masyarakat hari ini yang terjebak jauh dalam pengamalan-pengamalan Yahudi dan Nasara, yang bukan sekadar sejengkal bahkan sudah berada dalam lubang biawak mereka. Di harapkan umat Islam mengambil pelbagai pendekatan untuk memberi penjelasan serta mengislamisaikan pengamalan hari ini agar selari dengan tuntutan Islam. Gunakan majlis serta atur-cara yang ada untuk berdakwah serta menyampaikan konsep dan pandangan Islam agar mereka dapat membezakan antara susur galur Islam dan lainnya.



Kita perlu menjelaskan kembali status ibu dalam al-Quran. Peranan mereka dalam melahirkan generasi spesisi manusia ini. Hatta melahirkan para nabi, sahabat dan ulama. Bermula dengan Ibu manusia iaitu Hawa maupun Ibu Nabi Musa a.s, Maryam sebagai ibu Nabi Isa, Isteri Imran, Hajar dan Sarah, maupun Aminah, ibu Rasulullah dan isteri-isteri Rasulullah Saw. Para sohabiah yang berjuang bersama baginda. Bukan sekadar kisah tetapi tautan aqidah, syariah serta akhlak dan siri-siri perjuangan mereka dalam menegakkan Islam. Silih-gantikan dengan coretan dan kisah ibu-ibu dan wanita derhaka sebagai iktibar dan pengajaran seperti isteri nabi Noh, Isteri nabi Lut maupun isteri Abu lahab. Hidup mereka yang sentiasa merintangi syariah dan perjuangan Islam bahkan yang berada di barisan hadapan sebagai penentang kebenaran dan penegak kejahatan.



وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ

Para mukmin lelaki dan mukminah perempuan sebagai pemimpin antara mereka



Mereka adalah kepimpinan yang sentiasa bahu membahu sesama mukmin untuk berkerja dan berjihad dijalan Allah. Bekerja untuk berdakwah kepada masyarakat agar kembali kepada Islam yang syumul yang telah lengkap segala-galanya dan tak terkurang walau satupun. Bukan ianya sekadar teori tetapi realiti dan praktikal dan telah terbukti kehebatannya semenjak 14 abad yang lalu